Gerimis
Gerimis membuat garis-garis serasi
turun dari langit
disertai suara petir
makluk bumi panik dan ketakutan
berlari tunggang langgang
Gerimis jatuh di pepohonan
membentuk irama bunyi
membangun suara penuh harmoni
daun-daun bersemi
Gerimis semakin kencang
suara gemuruh, bumi pun menjadi basah
air meluap memenuhi jalan
sampah-sampah menyumbat selokan
orang tidak menghiraukan alam
Gerimis penghantar setiap doa
bagi mereka yang percaya
karunia pencipta selalu ada
berharap dikabulkan
Bekasi, 2009
15 Februari 2010
07 Februari 2010
Kecewa
Aku tahu hatimu terluka
harapan terkikis kenyataan
kekaguman sirna ditelan laut
butiran mutiara yang engkau cari tak didapatkan
kau temui batu karang penghalau gelombang
Dulu, matahari pagi disambut dengan suka cita
menghirup udara tersenyum gembira
engkau tebarkan masa depan
kini, wajahmu tersembunyi dibalik selimut kekecewaan
Harta telah memenjarakan ke dalam sangkar harga diri
dicampakan ketulusan dan kesetiaan
demi meraih singgasana dunia
bertahta mahkota kerajaan fana
Gunungkidul, 2010
Nafsu
Nafsu. Bercengkerama pada jiwa-jiwa kosong
menceburkan nurani dalam cawan tuba
mengikis nilai-nilai tradisi
Nafsu. Bersekutu dengan iblis-iblis
bersekutu dengan ambisi
mendorong dendam menjadi tragedi
dalam mengejar mimpi
mengorbankan teman sendiri
Nafsu. Berkelana tiada henti
membiaskan budi pekerti
dalam pencarian sensasi
demi sebuah harga diri
Nafsu.mengalahkan kata hati
meracuni cinta suci
dalam bisikan-bisikan halusinasi
berlabuh dalam sahara penyesalan diri
dalam cengkeraman birahi
Bekasi, 2010
Kematian
Biarkan tubuh ini terbaring kaku
di atas tikar jerami
jiwa berpisah dengan raga
pergi jauh berkelana di atas bukit
dalam persemayaman abadi
Mandikan tubuh dengan air melati
Usaplah rambut dengan kasturi
agar bau semerbak tetap abadi
di antara tetesan air mata
saudara dan famili
Gantikan baju baru
dengan selembar kain kafan putih bersih
untuk menuju tempat suci
seperti lahir dari rahim ibu
menangis bahagia
Baringkan tubuh telanjang
di dada bumi
sendiri tanpa engkau lagi
menanti penghakiman datang
doa-doa adalah harapan
dosa-dosa terampuni
Tanamlah pohon kamboja
di atas pusara
Bila rindu masih ada
suatu saat pasti tiba
Jakarta, 2009
Kemarau di Kotaku
Di sini aku mengenalmu
Di tanah gersang
Di sebuah perbukitan
Dihuni beribu batu cadas
Ditumbuhi pohon-pohon jati
Di sini kemarau panjang sering terjadi
orang-orang berdiam diri
di dalam gubuk-gubuk tak berpenghuni
Tanah ladang mereka menganggur
menunggu karunia
menatap hari-hari
Angin kemarau menampar wajahku
berdesir kencang disertai debu-debu
Mengingatkan kembali masa lalu
Bersama teman-teman masa kecilku
membuat patung dari pasir,berlari saling berkejaran
di siang hari yang sangat terik
di sungai yang sudah kering
Di sini harapan masih ada
Hujan pasti akan tiba
Air membawa kehidupan menghampiri kita
Dan semua pohon akan bersemi kembali
Di setiap jengkal ladang yang mereka miliki
Kini aku masih mengenangmu
Kerinduan tersimpan di dalam hati
membawa aku ingin kembali
Ke mana pun aku pergi
Mengejar matahari
Tak peduli betapa jauh
dan sulitnya jalan dilalui
Gunungkidul, 2010
Aku tahu hatimu terluka
harapan terkikis kenyataan
kekaguman sirna ditelan laut
butiran mutiara yang engkau cari tak didapatkan
kau temui batu karang penghalau gelombang
Dulu, matahari pagi disambut dengan suka cita
menghirup udara tersenyum gembira
engkau tebarkan masa depan
kini, wajahmu tersembunyi dibalik selimut kekecewaan
Harta telah memenjarakan ke dalam sangkar harga diri
dicampakan ketulusan dan kesetiaan
demi meraih singgasana dunia
bertahta mahkota kerajaan fana
Gunungkidul, 2010
Nafsu
Nafsu. Bercengkerama pada jiwa-jiwa kosong
menceburkan nurani dalam cawan tuba
mengikis nilai-nilai tradisi
Nafsu. Bersekutu dengan iblis-iblis
bersekutu dengan ambisi
mendorong dendam menjadi tragedi
dalam mengejar mimpi
mengorbankan teman sendiri
Nafsu. Berkelana tiada henti
membiaskan budi pekerti
dalam pencarian sensasi
demi sebuah harga diri
Nafsu.mengalahkan kata hati
meracuni cinta suci
dalam bisikan-bisikan halusinasi
berlabuh dalam sahara penyesalan diri
dalam cengkeraman birahi
Bekasi, 2010
Kematian
Biarkan tubuh ini terbaring kaku
di atas tikar jerami
jiwa berpisah dengan raga
pergi jauh berkelana di atas bukit
dalam persemayaman abadi
Mandikan tubuh dengan air melati
Usaplah rambut dengan kasturi
agar bau semerbak tetap abadi
di antara tetesan air mata
saudara dan famili
Gantikan baju baru
dengan selembar kain kafan putih bersih
untuk menuju tempat suci
seperti lahir dari rahim ibu
menangis bahagia
Baringkan tubuh telanjang
di dada bumi
sendiri tanpa engkau lagi
menanti penghakiman datang
doa-doa adalah harapan
dosa-dosa terampuni
Tanamlah pohon kamboja
di atas pusara
Bila rindu masih ada
suatu saat pasti tiba
Jakarta, 2009
Kemarau di Kotaku
Di sini aku mengenalmu
Di tanah gersang
Di sebuah perbukitan
Dihuni beribu batu cadas
Ditumbuhi pohon-pohon jati
Di sini kemarau panjang sering terjadi
orang-orang berdiam diri
di dalam gubuk-gubuk tak berpenghuni
Tanah ladang mereka menganggur
menunggu karunia
menatap hari-hari
Angin kemarau menampar wajahku
berdesir kencang disertai debu-debu
Mengingatkan kembali masa lalu
Bersama teman-teman masa kecilku
membuat patung dari pasir,berlari saling berkejaran
di siang hari yang sangat terik
di sungai yang sudah kering
Di sini harapan masih ada
Hujan pasti akan tiba
Air membawa kehidupan menghampiri kita
Dan semua pohon akan bersemi kembali
Di setiap jengkal ladang yang mereka miliki
Kini aku masih mengenangmu
Kerinduan tersimpan di dalam hati
membawa aku ingin kembali
Ke mana pun aku pergi
Mengejar matahari
Tak peduli betapa jauh
dan sulitnya jalan dilalui
Gunungkidul, 2010
08 September 2009
Keagunganmu
Sujudku tidak ada artinya apa-apa di hadapanmu
sewaktu kulihat gunung yang menjulang tinggi
gelombang laut yang hampir menenggelamkan bumi
gelegar halilintar seakan mencabik-cabik genderang telinga
dan tangis bayi di subuh buta
Aku melihat engkau setiap waktu
tetapi kesombongan tak pernah luluh
keangkuhan dunia masih membawaku pergi
berlari menyibakan butiran mutiara serta keteduhan pandanganmu
tidak kupedulikan ocehan di waktu pagi
bangunlah sayang hari berganti
Jakarta, 2003
sewaktu kulihat gunung yang menjulang tinggi
gelombang laut yang hampir menenggelamkan bumi
gelegar halilintar seakan mencabik-cabik genderang telinga
dan tangis bayi di subuh buta
Aku melihat engkau setiap waktu
tetapi kesombongan tak pernah luluh
keangkuhan dunia masih membawaku pergi
berlari menyibakan butiran mutiara serta keteduhan pandanganmu
tidak kupedulikan ocehan di waktu pagi
bangunlah sayang hari berganti
Jakarta, 2003
06 September 2009
Terang Bulan
Bulan
Cahayamu menerpa jendela kamar
menyapa setiap makluk di penjuru bumi
mereka tak pedulikan
hanyut dalam hiruk pikuk kotaku
bising tak menentu
parasmu lembut mencerminkan kebaikan
merah jingga wajahmu dalam batas pandang
Bulan
kau berada di atas Langit
Tak pernah mengeluh,sendiri dan setia
tak ada balas budi mengikuti perintah pencipta
semakin kupandang bergelayut dalam hatiku yang terdalam
Bulan
Kau semakin terhalang
mendung bergelut menutupi wajahmu
seiring bintang jatuh
membentuk goresan terang dalam cakrawala
Bogor, 2001
Cahayamu menerpa jendela kamar
menyapa setiap makluk di penjuru bumi
mereka tak pedulikan
hanyut dalam hiruk pikuk kotaku
bising tak menentu
parasmu lembut mencerminkan kebaikan
merah jingga wajahmu dalam batas pandang
Bulan
kau berada di atas Langit
Tak pernah mengeluh,sendiri dan setia
tak ada balas budi mengikuti perintah pencipta
semakin kupandang bergelayut dalam hatiku yang terdalam
Bulan
Kau semakin terhalang
mendung bergelut menutupi wajahmu
seiring bintang jatuh
membentuk goresan terang dalam cakrawala
Bogor, 2001
Ya Ramadhan
Ya Ramadhan
Ya Ramadhan
Sejuk hatiku mendengar namamu
laksana cahaya Matahari di Ufuk Timur
bertabur butiran embun berkilauan di dedaunan
disambut suara burung berkicau
Engkau bulan pilihan
menghampiriku di saat gundah datang
dalam setiap langkah
di rimba yang tak pernah kekal
membawa sejuta kesempatan
Ya Ramadhan,
Engkau bulan sebarkan kebaikan
tanpa ada rasa sesal
karena tidak semua orang menghiraukan
bisikanmu yang lembut lewat firman Tuhan
mengajarkan tentang pengendalian
melawan segala nafsu bukan rayuan, bukan pula bualan
Ya Ramadhan,
Bulan penuh berkah dan ampunan
hatiku resah setiap melihat engkau di ujung senja
masjid-masjid sepi
tinggal hamba-hamba pilihan
beritikaf,berzikir dan sholat di sudut-sudut ruangan
berganti keramaian di pusat perbelanjaan
berhamburan dalam pesta perayaan
Jakarta, 2009
(Selamat menjalankan Ibadah Puasa 1430 H bagi rekan-rekan yang menjalankan, mohon maaf lahir batin)
Ya Ramadhan
Sejuk hatiku mendengar namamu
laksana cahaya Matahari di Ufuk Timur
bertabur butiran embun berkilauan di dedaunan
disambut suara burung berkicau
Engkau bulan pilihan
menghampiriku di saat gundah datang
dalam setiap langkah
di rimba yang tak pernah kekal
membawa sejuta kesempatan
Ya Ramadhan,
Engkau bulan sebarkan kebaikan
tanpa ada rasa sesal
karena tidak semua orang menghiraukan
bisikanmu yang lembut lewat firman Tuhan
mengajarkan tentang pengendalian
melawan segala nafsu bukan rayuan, bukan pula bualan
Ya Ramadhan,
Bulan penuh berkah dan ampunan
hatiku resah setiap melihat engkau di ujung senja
masjid-masjid sepi
tinggal hamba-hamba pilihan
beritikaf,berzikir dan sholat di sudut-sudut ruangan
berganti keramaian di pusat perbelanjaan
berhamburan dalam pesta perayaan
Jakarta, 2009
(Selamat menjalankan Ibadah Puasa 1430 H bagi rekan-rekan yang menjalankan, mohon maaf lahir batin)
Langganan:
Postingan (Atom)
